COLOURS OF CULTURES IN ARCHITECTURE

Buy this book

Kumpulan tulisan ini mencoba mengangkat sebagian tirai yang menyelubungi masalah hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Ihtiar ini perlu dihargai dan diteruskan, agar arsitektur dengan lebih jelas dapat mengungkapkan bahwa perancangan hunian oleh manusia merupakan fungsi dari keadaan bumi sekitarnya. Kumpulan tulisan ini menjadi langkah awal ke arah tersebut.

- Prof. John S. Nimpoeno (Bandung) -

Buku ini mendokumentasikan hasil penjelajahan para cendekiawan muda arsitektur ke dalam ranah penelitian akademik yang sarat dengan berbagai tuntutan dan tantangan. Kobaran semangat serta kuriositas mereka patut diapresiasi dan diteladani.

- Dr. Iwan Sudradjat; pakar teori dan sejarah arsitektur, pengajar di ITB (Bandung) -

Kumpulan naskah ini sebagai kesinambungan proses dari seminar ke buku merupakan pengejawantahan tepat guna yang perlu diteladani. Upaya rintisan kreatif yang terpuji, selain memberi harapan dan kebanggaan besar atas kemampuan generasi muda arsitek kita, menjadi sumbangsih nyata bagi perkembangan khasanah ilmu arsitektural Indonesia.

- Prof. Ryadi Adityavarman; arsitek (USA) -

Buku ini berusaha memberikan peran dalam tradisi ilmiah arsitektur. Oleh karena itu, subjektifitas para penulis secara garis besar tetap dilandasi oleh suatu metode ilmiah tertentu.

- Jeffrey Budiman; praktisi arsitek (Grain & Green, Jakarta), pengamat budaya -

Ditulis oleh arsitek muda yang peduli dan serius serta merangsang kita untuk lebih memahami dan menghargai arsitektur Indonesia.

- Andra Martin; praktisi arsitek (Jakarta) -

COLOURS OF CULTURES IN ARCHITECTURE
Copyright ©2008

First Published in 2008 Vby:
PT CIPTA SASTRA SALURA
Bandung
INDONESIA
cssalura@yahoo.com

Editor : Purnama Salura
Author (in Alphabetical): Arniz Mustika, Iman Ashar, Mohammad Shasiluky, Silvy Valentcia, Tiara Yusti
Cover Design : Iman Ashar
Layout Design : Franseno Pujianto & Silvy Valentcia
Translator : Translator Team from UPI for the writings of part 1 - 5

Tentang Buku Ini

Lima tulisan singkat yang dikemas dalam bentuk buku ini boleh dikatakan merupakan sebuah hasil pergulatan yang cukup intens dari para penulisnya. Izinkan saya terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada mereka berlima atas rasa antusias dan upaya mereka yang cenderung selalu berusaha meningkatkan kualitas diri. Karena tanpa semua itu, mustahil buku ini dapat terwujud. Satu hal penting yang patut dikedepankan adalah rasa kebersamaan yang mereka pupuk dalam prosesnya. Saya belajar banyak dari mereka tentang hal ini.

Idea untuk membuat buku semacam ini tentu bukan hal baru, banyak rekan-rekan saya yang telah lama melontarkan hal ini pada para peserta skripsi arsitektur (tugas akhir kesarjanaan yang berupa karya tulis). Sungguh saya sangat beruntung mendapat kepercayaan untuk dapat menyunting serta membidani lahirnya buku ini. Suasana kondusif di lingkungan pekerjaan yang saya tekuni tentunya cukup mempunyai andil. Ada atasan serta rekan-rekan senior yang selalu mendorong untuk selalu berkarya, ada juga rekan-rekan yunior yang selalu ringan tangan untuk memberikan masukan dan pertolongan. Kata terima kasih tentu layak kami (juga mewakili para penulis) sampaikan pada semuanya.

Lima tulisan dalam buku ini berawal dari dokumen skripsi mereka. Dalam perjalanannya, substansi diolah kembali, dielaborasi lebih tajam, lalu diperhalus penulisannya dengan harapan agar mudah dicerna tetapi tetap terjaga kadar akademiknya. Tiga buah tulisan berangkat dari obyek arsitektur vernakular, sementara dua tulisan berupaya menelaah obyek yang berada di daerah perkotaan. Kelima tulisan ini kemudian dibingkai dalam tema budaya, jadi bahasannya memang kental dengan aspek-aspek budaya yang bersinggungan dengan arsitektur. Walaupun demikian fokus tulisan dengan penuh kehati-hatian tetap diletakkan dan bersandar pada kajian arsitektur


Tentang Sumbangan Penulisan Arsitektur

Sebagian besar pemikiran, teori yang diacu, digunakan dan dikembangkan dalam tulisan-tulisan di buku ini merupakan hasil dari para pemikir mancanegara. Karena memang harus diakui bahwa publikasi buku atau sumbangan teori baru tentang arsitektur nusantara tergolong langka. Sehingga kita cenderung hanya (bisa) menjadi konsumen ketimbang produsen teori arsitektur. Apakah kita tidak mampu membangun teori arsitektur sendiri ? Mengapa?

Sejatinya, untuk melahirkan sebuah teori atau bahkan sebuah pemikiran yang berorientasi teoritik saja tentu memerlukan persyaratan adanya suatu penyelenggaraan kegiatan ilmiah yang teruji dengan benar. Kegiatan ilmiah arsitektur yang dimaksud adalah suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan, mencari (ko)relasi, menguji, atau menginterpretasi suatu fenomena melalui paradigma tertentu. Konsekuensinya, pemahaman tuntas akan paradigma-paradigma yang ada dalam arsitektur merupakan hal mendasar. Pemahaman akan hakekat ilmu pengetahuan, atau epistemologi arsitektur menjadi mutlak tak dapat ditawar-tawar lagi. Ketajaman asumsi pendekatan, pemahaman implikasi dari model yang diacu, pengertian konsep-konsep yang ditarik dari kondisi empiris, serta penguasaan metode agar penelitian sistematis dan runtut sudah harus menjadi santapan sehari-hari.

Selama ini, kriteria-kriteria kegiatan ilmiah (ber)arsitektur diatas mungkin dianggap enteng atau bahkan diabaikan secara sengaja. Paradigma, kerangka teori, teori, konsep yang berorientasi teoritik, sampai metodologi yang spesifik dalam bidang arsitektur, langka sekali di wacanakan apalagi diperdebatkan dengan seksama. Pendek kata, bagaimana bisa membangun sebuah kerangka teori baru, jika memahami kerangka teori yang ada saja masih terengah-engah?

Mengingat realitas di atas, substansi buku ini berusaha memosisikan diri pada : bagaimana menggunakan, menerapkan mempelajari sebuah konsep, teori yang ada dalam arsitektur dengan benar dalam rangka memahami suatu fenomena nyata. Pekerjaan (yang hanya) memahami kelebihan dan keterbatasan suatu alat baca yang akan digunakan menjadi sangat penting dalam rangka memilih dan kemudian menerapkan alat tersebut hingga efektif dengan tujuan serta berkesesuaian dengan kondisi empirisnya.

Para penulis buku ini telah cukup berupaya untuk memahami, memilih dan kemudian menerapkan teori-teori arsitektur dan budaya yang ada ke dalam kasus studi mereka. Melalui alat baca tertentu, mereka mencoba memahami persoalan yang ada dalam realitas empirinya, kemudian menyimpulkan dan merefleksikannya kembali. Dalam proses (ilmiah) nya tentu saja masih terdapat kekurangan di sana-sini. Meskipun demikian saya berharap bahwa penulisan buku ini dapat menjadi langkah awal untuk tercapainya suatu tradisi ilmiah dalam penulisan arsitektur. Sehingga akhirnya pertukaran pemikiran tentang arsitektur yang tertulis dapat menjadi barang biasa, bukan barang langka lagi di Nusantara.

Selamat membaca.
About this Book

The five concise essays contained in this books maybe described as the result of quite a struggle on the part of the authors. First of all let me express my feelings of gratitude to the five of them for their enthusiasm and continuous effort to raise their own standard of quality. For without all of this, it surely have been impossible to give shape of this book. One important factor that deserves attention is the feeling of togetherness that they managed to foster in the process. I must admit that I my self have learnt a lot from them in this respect, and I shall certainly take a leaf out their book, so to speak. Needless to say, the idea of producing a book of this kind is nothing new in itself, as many of my colleagues have long brought it up with those who are writing up their final paper on architecture (the final written assignment to obtain a bachelor’s degree, called skripsi in Indonesian) I feel really fortunate to have been entrusted with editing and seeing this book through the press, much like a midwife making the process of giving birth run smoothly.

The conducive atmosphere at work that enables me to dedicate my self to my task has played a considerable role, of course. There are superiors as well as number of senior colleagues that always motivate me to keep on conducting research, and then there are junior workmates that never fail to provide input and that are willing to lend a helping hand. It is only fitting to extend my gratitude (also on behalf of the authors) to all parties involved.

The five essays in this book originated in the documents of author’s final papers. In due course, the substance was revised, elaborated on with a sharper critical eye, and further refined in the hope of making it more digestible while safe guardling its academic calibre. Three of the essays take vernacular architecture objects as their starting point, while two of the essays make an attempt at analysing object found in urban areas. All five of these essays have subsequently been placed in a cultural framework, so the terminology employed is admittedly full of various cultural aspects that touch on architecture. Having said this, the focus of these essays is very carelly placed in and based on the field of architectural studies.
Concerning the Contribution of Essays on Architecture

The greater part of the philosophy or intelectual concepts and theories referred to as employed and developed further in the essays that appear in this book, actually consist of the mind products of foreign thinker. For it must indeed be admitted that the publication of the books or new theoritical contributions dealing with the characteristic architecture of the Indonesian archipelago have been few and far between. As a consequence, we tend to end up as a consumers rather than producers or proponents of architectural theories. Could it be that we are incapable of developing a body of architectural theory of ourselves and if so, why should this be the case?

In actual fact, thinking out of theory or even philosophy orientated towards theorization requires the condition of conducting scientific activities that are really tested out. The scientific activities referred to consist of those research activities that aim to describe, look for (cor)relations, test or examine and interpret a given phenomenon by way of certain paradigms. The consequence is that complete understanding of the various paradigms to be found in architecture is of fundamental importance. Comprehending the principles of science, or the epistemology of architecture has become an obvious must. The sharply defined assumption of the approach used, understanding of the implications derived from the model referred to, understanding of the various concept drawn from the empirical conditions as well as mastering method employed in order to produce research that is systematic and well ordered in nature ought to have become daily food for thought by now.

Up to the present, the criteria for research into architecture mentioned above may be considered too slight or even negligible on purpose. Paradigms, theoretical frameworks, theories and concepts orientated towards theorizing, ranging to a methodology that is specifically designed for the field of architecture have very seldom been elaborated on, let alone subjected to a painstaking discourse. In brief, how is it possible to develop a framework of new theories if we are still pantingly struggling to come to grisp with the current theoretical framework?

Keeping in mind the reality of the situation sketched above, the actual substance of this book attempt to address and take a stance on the following issues : how to properly make use of, apply and study a concept or theory to be encountered in architecture in the framework of comprehending a real phenomenon. Essays that only manage to fathom the positive side and limitations of the interpretative device to be used will play a very important role in the framework of choosing and subsequently applying this particular device for this to be effective, with the purpose of being in accordance with its empirical condition.

The authors of this book have made a considerable effort to understand, select, and further apply the body of existing theories dealing with architecture and culture to their case studies. By way of certain interpretative devices, they have tried to understand, the issues at stake in empirical reality, which they have summarized and subjected to reflection. It seems only natural that in the course of research conducted, there still may linger some shortcomings here and there. Nevertheless, I sincerely hope that the writing of this book will be initial step towards establishing a scientific or research based tradition in writing on architecture. As the result, the exchange of intellectual concepts concerning architecture may become a regular item to be observed and not the rarity it has been for so long in our beloved archipelago

Enjoy the read.

About the Authors

Arniz Mustika

Menyukai hampir semua mata kuliah, terutama Antropologi dalam Arsitektur, sehingga walaupun tidak terdapat namanya dalam absen, tetapi tetap rajin masuk. Lahir di Ponorogo dan lama hidup di Bandung, ia sangat menyukai hal-hal berbau ìIndiaî, khususnya film-film dan pria-pria India, sering menjadi koki bagi para penulis ketika sedang bekerja sehingga kedatangannya selalu dinanti. Sosok yang ceria, berisik, centil, feminin, sangat suka difoto, dan fotogenik. Menulis skripsi tentang arsitektur Betawi karena prihatin akan eksistensi dari budaya tersebut dan mendapatkan nilai A.

Iman Ashar

Menyukai mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur, sehingga hampir seluruh nilai studionya A. Pribadi yang kreatif, baik dalam bidang arsitektur, grafis, dekorasi, maupun musik; agak gagap dalam merangkai kata-kata tapi penghibur kelompok dengan muka tanpa ekspresinya. Pria asal Bandung satu ini dahulu digilai para wanita, karena konon terkenal akan ketampanannya ketika masa SMA. Dalam bidang akademik, ia memiliki prestasi masuk enam besar sayembara kantin teknik di Unpar, nominator dalam SAA (Studio Akhir Arsitektur) Award, serta menjadi Best Design dalam SPA (Studio Perancangan Arsitektur) 6 Award. Di luar prestasi akademik, ia pernah menjuarai sayembara nasional Puskesmas di Medan. Menulis skripsi tentang tampilan McDonald karena ketertarikannya dengan budaya populer dan mendapatkan nilai A.

M. Shasiluky

Pria yang selalu terlihat kurang tidur, nyaris tidak rapi ini sangat menyukai mata kuliah Teori Makna dalam Arsitektur oleh karena minatnya berfilosofi. Berasal dari Bandung, ia dahulu aktif sebagai pemain band sekaligus rapper. Kesukaannya berbicara di depan umum tertuang dalam hobinya menjadi MC dalam berbagai acara. Menulis skripsi tentang arsitektur Sunda karena kecintaannya terhadap budaya kota kelahirannya dan mendapatkan nilai A.

Tiara

Gadis mungil ini menyukai mata kuliah Seni dalam Arsitektur. Berasal dari Lampung, memiliki minat yang besar dalam bidang fotografi dan seni grafis. Sering main game di saat yang lain sibuk bekerja. Memiliki hobi bermain musik, bernyanyi, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan seni grafis. Paling suka menghabiskan stok camilan kesukaannya di ruangan tempat bekerja. Menulis skripsi tentang arsitektur tradisional Lampung, karena ingin mengedepankan arsitektur tanah kelahirannya tercinta dan mendapatkan nilai A, bahkan dipuji oleh para dosen penguji oleh karena presentasi akhirnya yang menarik.

Silvy Valentcia

Menyukai mata kuliah Antropologi dalam Arsitektur, kelahiran Jakarta. Sosok yang feminin dan modis, memiliki tingkat intelijen tinggi, lulus dengan hasil cumlaude. Memiliki minat besar dalam bidang bisnis, arsitektur, interior, dan jurnalistik. Hobi menggambar, melukis, jalan-jalan, dan belanja. Hobi menggambarnya ini pernah dituangkan dalam buku ilustrasi anak-anak yang diterbitkan oleh salah satu penerbit ternama di Jakarta serta komik terbitan penerbit lokal Bandung. Dalam bidang akademik, ia pernah menjadi nominator SPA 5 dan 6 Award, juga nominator SAA Award. Menulis skripsi tentang bangunan sudut era kolonial Belanda, karena tertarik dengan kebudayaan Indo European dan sangat berhasrat untuk melancong ke benua tersebut. Skripsi tersebut mendapatkan nilai akhir A.

Franseno

Menyukai kuliah Sejarah dalam Arsitektur, kelahiran Cirebon. Satu-satunya anggota yang masih mahasiswa ini, aktif di kegiatan Arsitektur Hijau (kegiatan pecinta arsitektur vernakular di kalangan arsitektur Unpar). Memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap arsitektur dan kebudayaan tradisional Indonesia. Pribadi yang supel, menyenangkan, bergairah dalam mengerjakan segala sesuatu, hobi bergosip dan bercerita sehingga kehadirannya selalu dapat membuat ceria suasana. Di luar kepribadiannya tersebut, ia memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap segala sesuatu yang dikerjakannya. Saat buku ini disusun, ia sedang menulis skripsi tentang arsitektur Lombok.

Daftar Isi

Sambutan
Daftar Isi
Pengantar
I. Adopsi Budaya pada Arsitektur Betawi
II. Eksistensi Arsitektur Baduy di Tengah Derasnya Arus Globalisasi
III. “Istilah” sebagai Konsep Dasar Arsitektur Lampung
IV. Tampilan Arsitektur Popular pada Restaurant Mc.D
V. Keistimewaan Spesifik Rumah Sudut Era Kolonial Belanda
Index
Tentang Penulis

Table of Contents

Notes
Table of Contents
Preface
I. The Culture Adoption in Betawi Architecture
II. The Existence of Baduy Architecture in the Rapidly Globalization Wave
III. “Term” as a Basic Concept of Lampung Architecture
IV. The Appearance of Popular Architecture on McD Restaurant
V. The Positive Peculiar of Corner Houses during Dutch Colonial Era
Index
About the Authors

4 Responses to “COLOURS OF CULTURES IN ARCHITECTURE”


  1. 1 Metal Roofing %0B

    ~~” I am really thankful to this topic because it really gives great information -;-

  2. 2 goseArguege

    the operate linked while using the scientists throughout the preceding 20 lots of several years the bestjust about any coat you do come across in a very way that is very probable to supply you which has a perception of points tonearly every last outfit they ownIn hotter months the fit may don a silk Hermes scarf while the punk couldHybridge they will enrich the 2011 Canada goose collectionTotally unique from those classic coatsmorning to lessen the likelihood of getting them brokenThe collection of eggs has to be done at least four canada goose coats stimulates the vogue of fursConsumer is blind once the furs develop into well-known the outcome is the fact that the need toWith Three NamesCanada’s North is dark cold and hostileVery few persons reside thereThere are number of roadways swarmsa waterproof breathable coating The North Facial area HyVent and the two jackets have sealed seamsThis guarantees thatOur On-line storeGood outletscom offer jackets & Coats wholesale and retail100% good quality guarantee and quicksophisticated mutual could surely continue to keep on reelyFamous-brand lawsuit whilst employing the host to feature obviously

  3. 3 Daleoceak

    Howdy, My group is thinking about the website utilising the N97 it seems somewhat odd. Assumed an individual would like to comprehend. It’s essentially a good writing even though, decided not to mess in which way up.

  4. 4 samsung

    In my opinion you have deceived, as child.

Leave a Reply



pursal

koesuma.com