Monthly Archive for November, 2008

S1 - TMBARS - 10 - GEOMETRY & CHAOS [RINI]

presentation by DS Vitorini, ST., MT.

download lecture slides

S1 - TMBARS - 10 - METAPHOR [INDRI]

presentation by Indri Astrina, ST., MA.

download lecture slides

S1 - TMBARS - 09 - VENTURI DUCK SHED [RINI]

presentation by DS Vitorini, ST., MT.

download lecture slides

S1 - TMBARS - 08 - MIMETIC [INDRI]

presentation by Indri Astrina, ST., MA.

download lecture slides

KAV 2: Pertemuan Arsitektur

Ragam wujud ruang dan bentuk arsitektur di Nusantara sangat beragam. Hal ini memperlihatkan bahwa budaya asli Nusantara telah mengalami banyak persinggungan dengan budaya-budaya luar. Dipercaya bahwa kemampuan suatu masyarakat untuk mengadaptasikan makna serta norma-norma lokal terhadap pengaruh budaya yang datang dari luar akan tercermin pada arsitektur vernakular mereka. Berangkat dari argumen itu, tema program kami kali ini akan terfokus pada perpaduan budaya (cultural mix) yang tercermin dalam arsitektur, suatu pertemuan arsitektur. Di dalamnya terjadi proses “trial and error” dan kadangkala juga mengalami proses “pinjam-meminjam” antar kebudayaan, yang disebut proses akulturasi. Akulturasi berarti proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kelompok kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan tersebut. Dengan demikian tercipta suatu kebudayaan yang khas tempat tersebut.

Lokasi penelitian terpilih adalah daerah Pantai Utara Jawa yang dapat dilihat sebagai sebuah ‘frontier’, tempat pertemuan budaya asing dan budaya lokal. Kebudayaan pesisir Utara Jawa menurut Denys Lombard [1996a] dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya menyatakan bahwa secara tradisional daerah pesisir Utama Jawa merupakan suatu wilayah yang memiliki latar belakang budaya dengan karakteristik tersendiri. Bila ditinjau dalam perkembangan sejarah, keberadaan komunitas masyarakat Cina di pesisir Utara Jawa sudah berlangsung selama berabad-abad lamanya. Mereka datang untuk berdagang dengan membawa barang-barang kerajinan untuk ditukar dengan hasil-hasil pertanian terutama rempah-rempah, sarang burung walet, gambir, bahan obat-obatan dan sebagainya. Ada juga orang-orang Cina yang datang sebagai tukang atau buruh tambang ketika masa kolonial Belanda. Mereka yang bekerja di pertambangan Kalimantan atau perkebunan di Sumatra ini kemudian menyebar ke pulau Jawa. Untuk keperluan dagang tersebut orang-orang Cina kemudian menetap di pusat-pusat perdagangan Pantai Utara Jawa, di antaranya Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Lasem dan Tuban.

Ditemukan bahwa arsitektur lokal di Pantai Utawa Jawa dipengaruhi oleh arsitektur Cina, Arab dan Kolonial masa itu. Menjadi menarik untuk menelaah terciptanya jalinan interaksi budaya Cina, Arab, dan Kolonial dengan budaya setempat. Lebih lanjut bagaimana dan seberapa jauh interaksi tersebut berpengaruh pada tatanan, bentuk serta detail arsitekturnya. Hasil penelitian yang menggambarkan deskripsi mendalam serta pemetaan pengaruh arsitektur Cina, Arab dan Kolonial pada arsitektur masyarakat Melayu, khususnya masyarakat Jawa diharapkan dapat menjadi tambahan perbendaharaan keilmuan. Sedangkan pengungkapan akulturasi (interpretatif) diharapkan dapat memberi kontribusi pada proses merancang arsitektur dalam konteks perubahan serta perkembangan kebutuhan yang cenderung berlangsung semakin cepat.

Continue reading ‘KAV 2: Pertemuan Arsitektur’



pursal

koesuma.com