-
-
Ragam wujud ruang dan bentuk arsitektur di Nusantara sangat beragam. Hal ini memperlihatkan bahwa budaya asli Nusantara telah mengalami banyak persinggungan dengan budaya-budaya luar. Dipercaya bahwa kemampuan suatu masyarakat untuk mengadaptasikan makna serta norma-norma lokal terhadap pengaruh budaya yang datang dari luar akan tercermin pada arsitektur vernakular mereka. Berangkat dari argumen itu, tema program kami kali ini akan terfokus pada perpaduan budaya (cultural mix) yang tercermin dalam arsitektur, suatu pertemuan arsitektur. Di dalamnya terjadi proses “trial and error” dan kadangkala juga mengalami proses “pinjam-meminjam” antar kebudayaan, yang disebut proses akulturasi. Akulturasi berarti proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kelompok kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan tersebut. Dengan demikian tercipta suatu kebudayaan yang khas tempat tersebut.
Lokasi penelitian terpilih adalah daerah Pantai Utara Jawa yang dapat dilihat sebagai sebuah ‘frontier’, tempat pertemuan budaya asing dan budaya lokal. Kebudayaan pesisir Utara Jawa menurut Denys Lombard [1996a] dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya menyatakan bahwa secara tradisional daerah pesisir Utama Jawa merupakan suatu wilayah yang memiliki latar belakang budaya dengan karakteristik tersendiri. Bila ditinjau dalam perkembangan sejarah, keberadaan komunitas masyarakat Cina di pesisir Utara Jawa sudah berlangsung selama berabad-abad lamanya. Mereka datang untuk berdagang dengan membawa barang-barang kerajinan untuk ditukar dengan hasil-hasil pertanian terutama rempah-rempah, sarang burung walet, gambir, bahan obat-obatan dan sebagainya. Ada juga orang-orang Cina yang datang sebagai tukang atau buruh tambang ketika masa kolonial Belanda. Mereka yang bekerja di pertambangan Kalimantan atau perkebunan di Sumatra ini kemudian menyebar ke pulau Jawa. Untuk keperluan dagang tersebut orang-orang Cina kemudian menetap di pusat-pusat perdagangan Pantai Utara Jawa, di antaranya Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Lasem dan Tuban.
Ditemukan bahwa arsitektur lokal di Pantai Utawa Jawa dipengaruhi oleh arsitektur Cina, Arab dan Kolonial masa itu. Menjadi menarik untuk menelaah terciptanya jalinan interaksi budaya Cina, Arab, dan Kolonial dengan budaya setempat. Lebih lanjut bagaimana dan seberapa jauh interaksi tersebut berpengaruh pada tatanan, bentuk serta detail arsitekturnya. Hasil penelitian yang menggambarkan deskripsi mendalam serta pemetaan pengaruh arsitektur Cina, Arab dan Kolonial pada arsitektur masyarakat Melayu, khususnya masyarakat Jawa diharapkan dapat menjadi tambahan perbendaharaan keilmuan. Sedangkan pengungkapan akulturasi (interpretatif) diharapkan dapat memberi kontribusi pada proses merancang arsitektur dalam konteks perubahan serta perkembangan kebutuhan yang cenderung berlangsung semakin cepat.
Continue reading ‘KAV 2: Pertemuan Arsitektur’
Alkisah seorang dewa dari lapisan langit tertinggi turun ke bumi Nusantara dengan misi mencari keterangan tentang makhluk asing bernama arsitektur vernakular yang tak jelas ujudnya. Setelah berkeliling sekian lama, dewa ini nyaris putus asa. Beliau singgah duduk beristirahat di gubuk terbuka milik pak tani di tengah bumi sambil menceritakan misinya. Dengan santai pak tani menjawab: “Pak dewa, kalau kami para petani membuat gubuk di tengah sawah ini selalu mikirnya tentang yang pas saja.. pas sama cuacanya, pas sama tempatnya, pas sama adat kebiasaan kami, pas sama saya dan teman-teman yang memakainya, gitu lho pak.. lho, ngomong-ngomong pak dewa koq keliatannya bisa nikmat beristirahat.. apa gubuk ini pas juga untuk pak dewa?” Sang dewa lalu segera menghilang, bergegas terbang menuju khayangan.
Continue reading ‘KAV 1: Logat Arsitektur Nusantara’
Perumahan massal di perkotaan adalah bangunan perumahan yang dibangun oleh pengembang swasta (private developer) maupun oleh pengembang dalam bentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun jelas bahwa produk yang dihasilkan seyogyanya memenuhi syarat kesehatan, keamanan, kekuatan, kenyamanan dan keindahan, yang secara keseluruhan menjadi nilai kualitas arsitektural dari rumah dan perumahan yang dibangun.
Tentu saja bagi para pengembang dan para arsitek tidak mudah memenuhi seluruh persyaratan tersebut, karena banyaknya faktor-faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi proses pengadaannya.
Di sisi lain studi-studi atau tulisan tentang penataan tata bentuk bangunan rumah secara massal belum terlalu banyak, bahkan pada kondisi nyata penataan dilakukan sangat pragmatik.
Berdasarkan kondisi nyata yang ada tersebut serta kesadaran bahwa prinsip-prinsip penataan menjadi sangat penting untuk dipahami, maka buku ini ditulis terutama dalam melihat dan mencari berbagai pertimbangan dan pemikiran ilmiah tentang proses penataan bentuk bangunan rumah yang harmonis sebagai karya arsitektur.
Buku ini ditulis bagi semua pihak yang berkepentingan baik sebagai perancang, pembangun, pemilik, pengguna yang berada pada seluruh lapisan masyarakat.
Isi buku ini diharapkan mampu memberikan pencerahan dan memperkaya pengetahuan teoretis dan empiris tentang variabilitas tata bentuk rumah di lingkungan perumahan estat terkait dengan peraturan bangunan sebagai faktor kendali yang dapat dilakukan melalui proses perancangan arsitektural.
Continue reading ‘TATA BENTUK RUMAH YANG SEIMBANG DAN HARMONIS’
Kumpulan tulisan ini mencoba mengangkat sebagian tirai yang menyelubungi masalah hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Ihtiar ini perlu dihargai dan diteruskan, agar arsitektur dengan lebih jelas dapat mengungkapkan bahwa perancangan hunian oleh manusia merupakan fungsi dari keadaan bumi sekitarnya. Kumpulan tulisan ini menjadi langkah awal ke arah tersebut.
- Prof. John S. Nimpoeno (Bandung) -
Buku ini mendokumentasikan hasil penjelajahan para cendekiawan muda arsitektur ke dalam ranah penelitian akademik yang sarat dengan berbagai tuntutan dan tantangan. Kobaran semangat serta kuriositas mereka patut diapresiasi dan diteladani.
- Dr. Iwan Sudradjat; pakar teori dan sejarah arsitektur, pengajar di ITB (Bandung) -
Kumpulan naskah ini sebagai kesinambungan proses dari seminar ke buku merupakan pengejawantahan tepat guna yang perlu diteladani. Upaya rintisan kreatif yang terpuji, selain memberi harapan dan kebanggaan besar atas kemampuan generasi muda arsitek kita, menjadi sumbangsih nyata bagi perkembangan khasanah ilmu arsitektural Indonesia.
- Prof. Ryadi Adityavarman; arsitek (USA) -
Buku ini berusaha memberikan peran dalam tradisi ilmiah arsitektur. Oleh karena itu, subjektifitas para penulis secara garis besar tetap dilandasi oleh suatu metode ilmiah tertentu.
- Jeffrey Budiman; praktisi arsitek (Grain & Green, Jakarta), pengamat budaya -
Ditulis oleh arsitek muda yang peduli dan serius serta merangsang kita untuk lebih memahami dan menghargai arsitektur Indonesia.
- Andra Martin; praktisi arsitek (Jakarta) -
Continue reading ‘COLOURS OF CULTURES IN ARCHITECTURE’
It can be argued that literature about Sundanese architecture is rare; if there were any, usually incompleter and often superficially written. An entire book that dedicated to the subject does not exist, only as simple note written by anthropologists, thus are merely speculative. Until now, there has been no methodology that could be use to understand the concept of form and meaning in Sundanese architecture, let alone the concept in the process of cultural change. There has been no research, either theoritical or empirical, to linking the two concepts of form and meaning in Sundanese architecture, so the interpretation of the styles are neither complete nor comprehensive.
The limit of this study regarding the Sundanese architecture are further complicated by the absence of any ancient palace or royal compoundsóor their physical remains. Ancient manuscripts detailed the artsówritings and oral histories containing informations about ordinary life. Sundanese cultural heritage only revolves around the arts, language, dance, drama, music; but conversely to the artifactsóbuildings, monuments, and their ornamentsóthey are extremely rare. Thus, research about Sundanese architecture requires further study to be doggedly pursued.
Prompted by this lack in literature and awareness that the concepts of form and meaning in vernacular architecture are so important in the development of architecture for the future in globalisation era, I have written this book on the basis of research on three case studies of Sundanese vernacular architecture. The case studies have been chosen deliberately so they represent the architectural conditions of Sundanese in the face of the dynamic of change. May this work can serve as a useful reference (or as a starting point to other similar studies) for the development of any necessary strategic steps to ensure the survival of Sundanese architecture in the onslaught of global change.
Continue reading ‘Sundanese Architecture’